Aku tahu ini diluar kendaliku. Namun rasa yang ada tak akan
mampu ku menolaknya. Kau beri ku rasa, hingga tercipta nyaman seisi jiwa.
Salahkah jika memang hati ini mencintaimu. Meski banyak hal yang membuat aku
dan kamu takkan mungkin bersatu.
Disini, untukmu, aku berusaha menjadi apa yang kamu
butuhkan. Setelah kamu pernah tersakiti, aku ingin memberimu bahagia tuk lupakan segala gundah dan amarah
juga sedihmu. Mungkinkah dapat kamu mengerti apa yang telah tercipta dihati
ini.
Andaikan waktu bisa
ditarik mundur..
Ku mohon tuk
dilahirkan kembali
Dengan raga yang
lain pun tak mengapa
Namun jiwa kan
tetap sama adanya
Hati yang
mencintaimu,
Hingga bisa
memilikimu..
Tersentak aku
menyadari,
Bukan saat yang
tepat tuk menyesali,
Meski satu tanda
tanya,
Sulit kutemukan
alasannya,
Mengapa kenyataan
ini harus terjadi,
Ingin ku berlari
sejauh mungkin,
Lepaskan rasa yang
tercipta dan berakhir percuma...
Bagaimana bisa hal
ini terjadi,
Lelaki manapun tak
mampu aku percayai lagi..
Ku tutup rapat
pintu hati ini
Aku terlalu takut
untuk mencintai
Bila akhirnya kan
tersakiti tuk kesekian kali...
Hingga akhirnya ku
temukan sosok yang lain
Mengisi hari-hariku
Mengusir
kesendirianku yang kelabu
Memberikan bahagia
Meski dengan hal
yang paling sederhana
Namun sungguhlah
bermakna...
Ku selipkan namanya
dalam setiap doaku
Berharap waktu kan
beri yang terbaik
Aku tahu ini takkan
mungkin terjadi
Namun, kepingan
hati ini berhasil kau curi
Nyaman kurasa
Hingga buatku
bertanya
Adakah makna dibalik ini semua...
Berjuta kata “semoga”
Selalu hadir dalam
doa
Hingga ku teteskan
air mata
Debar jantung ini
kian terasa
Kala terbayang
segala ketidakmungkinan yang ada
Mengapa waktu
biarkan kita bersama
Jika Tuhan tak izinkan
kita tuk bersanding...
Tak hanya menuangkan. Sebenarnya aku ingin menumpahkan
segala yang kurasa dan semua yang terjadi. Kehidupan memang tak pernah berjalan
sempurna bagaikan cerita dalam dongeng. Cerita yang segala sesuatunya selalu
diakhiri dengan “bahagia selamanya”. Begitu sialnya ketika hati ini jera sudah
tuk mencari sebuah hati yang lain. Kegelisahan dan resah yang tak semestinya
hadir. Namun ketika tak ada satupun yang ku percaya lagi, ketika sulit kurasa
tuk membuka hati ini untuk yang lain. Seseorang hadir meruntuhkan segalanya.
Meruntuhkan rasa takutku, robohkan gundahku, dan hapus rasa sakit ku. Buatku
mampu mengukir senyuman dibibir dan merubah kesedihan menjadi canda tawa yang
merasuk sempurna di jiwa.
Disisi lain aku tak mengerti, apa rasa yang hadir untuknya
hanyalah sebuah asa yang tak akan pernah jadi nyata. Ataukah keajaiban layaknya
fairy tale dapat aku rasakan. Kemungkinan yang ada, dibanding ketidakmungkinan
yang nyata memang sungguh sangat berbanding signifikan. Ikuti kata hati. Atau
menyerah pada keadaan. Entah setahun dua tahun nanti kan jadi apa. Waktu kan
tetap jadi pemegang rahasia.
Kata mereka, perbedaan menjadi suatu keragaman dan kekayaan
yang ada untuk saling menghargai, menghormati dan bertoleransi satu sama lain.
Namun nyatanya, perbedaan jugalah yang menjadi jurang pemisah. Bahkan menjadi
satu hal yang membuat dua hati tak dapat menyatu. Kecuali salah satu mampu
mengalah untuk dapat menyatu dengan sempurna. Mengalah dan mengikuti prinsip
itulah, hal yang begitu sulit untuk digenggam.
Kalau dipikir-pikir
hidup ini aneh ya. Ketika kita mencintai seseorang, tapi seseorang itu nggak
ada rasa sama kita. Saat kita dicintai oleh seseorang, eh kitanya nggak suka
sama dia. Banyak banget misterinya.
Seorang berkata padaku, “semakin cinta berarti semakin siap
buat sakit”. Satu kalimat sederhana namun tak mudah untuk dilupakan. Tak salah.
Namun bagiku, setidaknya kita pernah berjuang, meski tak ada hasil yang sesuai
dengan harapan. Karena yang terpenting adalah prosesnya. Dan tentu ada hikmah
yang dapat diambil dari setiap kenyataan yang terjadi.
Begitu sulitnya menjelaskan segala rasa yang semakin dalam
kurasa. Begitu sulitnya meyakinkan hatinya tuk dapat aku rengkuh. Memang banyak
hal di dunia ini yang tak sejalan dengan harapan. Disamping banyak juga hal di
dunia ini yang tidak mungkin sekalipun menjadi mungkin.
Apa benar rasa sakit itu ada untuk dirasakan?
Mungkinkah rasa sakit itu ada juga karena tersedia
penawarnya.
Bagaimana dengan rasa cinta?
Cinta untuknya yang sedang kurasa, namun bukan aku yang
ciptakannya. Semua diluar kendaliku. Pun aku tak mengerti, hingga detik ini
rasa untuknya semakin dalam tak ingin aku mengusirnya.
Bahkan sampai hari ini aku masih terus berjuang untuk
menahan semua perasaan dan keinginanku terhadapnya.
Aku tak mengerti, mengapa detik berlalu begitu cepat saat
aku lalui semuanya denganmu, bersamamu, menatap indah senyummu, canda tawamu
dan segala yang ada bersamamu..
Mengapa kini semua seolah sirna seiring berjalannya waktu..
perhatianmu, dan kasih yang pernah kau beri untukku. Entah, sekali lagi aku tak
mengerti mengapa secepat itu kau berubah..
Ah.. semua laki-laki didunia ini sama saja. .
Dan waktu yang ku takutkan itu, mungkinkah ini saatnya?
Jangan.. aku mohon jangan.. aku ingin selalu bisa menikmati
canda tawanya..
Meski tak mungkin untukku memilikimu, segala rasa yang pasti
tak mungkin. Namun kumohon, Tuhan. Aku ingin selalu dekat dengannya. Seperti
kemarin hingga detik sebelum semuanya sirna dan berubah seketika.
“aku dan kamu” begitulah isi doaku..
“aku dan kamu” itulah mimpi terbesar dalam jiwaku..
Seperti dalam bayangan, hadirmu selalu hadir dalam pikiran.
Entah kapan kan jadi kenyataan, namun sungguh indah walau hanya kan selalu
terbayang. Tak akan pernah terlupa, tak akan pernah terhapus. Masa-masa itu,
masa yang begitu indah namun secepat kilat semua itu telah usai. Belum sempat
aku rasakan sepenuhnya. Kesekian kalinya terjadi lagi. Aku kehilangan, hal yang
belum sempat termiliki. Dan mungkin tak akan pernah termiliki. Kamu...
Apakah happy ending itu hanya milik dongeng dan film cinta
sebagaimana adanya?
Salahkah jika seorang wanita ingin mewujudkan cerita
cintanya seperti dalam dongeng?
Jika wanita dilahirkan dan ditakdirkan menjadi seorang
pemimpi. Lalu pria sebagai sosok yang realistis. Bukankah seharusnya sang pria
mampu merealisasikan mimpi dari seorang wanita yang sangat mencintainya dengan
ikhlas dan tanpa mengharapkan balasan kecuali dengan cinta itu sendiri?
Aku tahu, hidup tak selamanya indah. Juga, tak ada
kesempurnaan dalam hidup. Kecuali kita yang mampu ciptakan bahagia itu hingga
terasa begitu sempurna. Saat berada didekat orang-orang yang kita sayang dan
menyayangi kita. Saat berada ditengah orang-orang yang membutuhkan dan kita
butuhkan.
Apalagi saat bisa bersama dengan sesosok Prince Charming
yang selama ini diidamkan. Serasa tak butuh siapa-siapa lagi didunia ini. Aku
percaya segala sesuatunya kan terasa menyenangkan.
It’s always been you...
Begitu beratnya rasa, kuingin memelukmu. Hilang yang kini
kurasa. .
Bukankah jika memang benar sama-sama saling mencintai dan
menyayangi, berarti juga bersedia untuk berjuang untuk hal apapun yang akan
dihadapi kedepannya? Tapi mengapa kenyataannya menjadi seperti ini. Menghilang
satu sama lain. Terdiam untuk waktu yang tak bisa ditentukan.
Menyebalkan.
Keheningan ini sungguh membosankan..
Aku merindukan gelak tawamu, sentuhan jemarimu dan genggaman
tanganmu.
Ataukah kau telah miliki yang lain?
Hingga kau lupakan aku begitu saja..
Berulang kali rasakan sakit yang sama, dengan orang yang
berbeda pun, semuanya terasa sama. Tersadar, aku mengerti bila hasil tak selalu
sama dengan ingin. Aku tak percaya semua kan jadi begini, setelah kau hadir
menjadi malaikat dihati ini. Cukup sudah sakit yang kurasa kini. Semua yang
telah kulalui berakhir percuma begitu saja.
Cobalah berhenti sejenak lalu lihatlah aku.. masih adakah
ruang dihatimu untukku.. cinta ini tak akan aku sesali, meski rasa sakitnya
selalu menghantui. Karena hidup untuk cinta, yang tercipta dari dirimu dan
kesetiaan yang terucap dari bibirku.
Ingin sekali aku katakan, betapa berarti tingkahnya
untukku.. ingin sekali aku tunjukkan pada dunia bahwa dia mampu buatku
terkesan..
Tak mampu aku bohongi rasa dihati, bila “hati dan raga ini
terlalu mengharapkanmu hingga kagum menjadi duri”.
Namun aku akan mencoba untuk merelakanmu, akan ku berusaha
untuk mengerti kepergianmu dengan semua yang akan terjadi, sekuat hati akan
kupahami cinta dengan segala misteri yang tersimpan. Semua yang telah terjadi,
begitu sempurna untukku meski kini telah disebut sebagai kenangan.
Aku tak menyangka, kau palingkan arah, disaat ku percaya..
Kita sering banget
seperti ini. Tanpa kata, tanpa kabar dan tanpa tatap muka satu sama lain.
Bagiku ini sungguh sangat menyebalkan. Entah baginya.
Hidup ini lucu, kadang warna warni, kadang pula cuma ada
hitam putih bahkan kelabu. Saat lagi mengharap seseorang untuk bersama kita,
malah yang lagi enggak kita harapkan itu justru ada bersama kita. Sering banget
realita nggak sejalan dengan harap dan rencana.
Menatap setiap langkahmu adalah keindahan hal yang selalu
aku simpan. Berharap detik ini hingga esok kan datang aku belum kehilangan
semua itu. Hangat peluk janjimu selalu aku ingat tak akan pernah sekalipun
terhapus dari pikiranku.
Sungguh keheningan diantara kita begitu sangat menyakitkan.
Terlebih aku tak mengerti apa maumu dan apa maksudmu melakukan semua ini
padaku. Aku ingin kita seperti biasa. Seperti saat kita lewati hari bersama.
Bukan terdiam seperti ini. Tanpa kata,
tanpa isyarat. Terdiam aku meragu. Namun tak
dapat aku lari dari perasaanku untukmu.
Terinspirasi dari lagu Sheila On 7 yang berjudul Anugerah
Terindah yang Pernah Kumiliki. Terdiam
aku merenung dan hayati setiap bait dari lagu itu. Mengesankan. Tergambar jelas
bayangmu saat ku nikmati lagu itu. Teringat kala waktu itu milik kita. Tak
kusangka kini telah berlalu. “belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu, hangat
peluk janjimu, anugerah terindah yang pernah kumiliki”. Sungguh membuat
ingatanku melayang jauh kala hal itu terjadi. Seakan waktu membeku saat itu. Serasa aku tak butuh siapapun juga.
Seolah dunia menjadi warna-warni saat kulalui hari itu denganmu. Mungkin benar
, kala Tuhan hanya sekedar mempertemukan namun tidak untuk menyatukan. Namun
bukankah takdir dapat berubah dengan usaha dan doa?. Aku tak ingin, jika namamu
yang telah terukir dalam jiwaku berubah menjadi kenangan.
Ku berfikir dan merenungkan. Bahwa cinta tak hanya untuk
cinta dan ingin. Aku butuh. Kurasakan desiran rasa yang butuh akan hadirmu
disisiku. Meredamkan amarahku, tunjukkan jalan keluar kala ku tersesat dalam
suatu persoalan. Membawa ku pada kesederhanaan dan ajariku untuk selalu apa
adanya. Tak butuh alasan apapun bila berkali kau hujamku dengan pertanyaan
bodoh. Karena cinta tak butuh alasan.
Aku tak ingin kau berlalu seperti yang sudah-sudah. Aku tak
ingin nama indahmu berubah menjadi satu kata sederhana yaitu “kenangan”.
Entahlah kini kau dimana. Hilang. Tak ada kata diantara kita. Ataukah kau
sengaja lari. Menjauh dan bersembunyi entah dimana aku tak tahu. Aku tak
mengerti akan keadaan ini. Kesekian kalinya kurasa luka yang sama. Air mata
yang sama. Namun dengan sosok yang berbeda. Kemana aku harus pulang?
Ternyata senyumku hanya sesaat. Bahagiaku telah sirna.
Cahayaku mulai meredup. Harapanku entah kemana. Seiring kau tiada lagi di
hari-hariku. Menyebalkan. Namun kamu masih ada dalam hatiku. Mataku terpejam
oleh lelah yang tak seharusnya. Resah mengganggu setiap detik waktu berlalu.
Sesekali kuingin kan engkau tuk rebah didadaku. Rasakan setiap detak jantungku.
Sebanyak itulah kesabaranku untuk mencintaimu. Menunggu.
Seperti langit yang
merindu akan hangatnya sang mentari.
Bersembunyi dibalik
mega kelabu
Menunggu sang hujan
hentikan rintikannya
Hingga sang pelangi
pun hadirkan raganya
Membawa berjuta
warna hiasi cakrawala
Seandainya mata
sang pangeran ada pada hatinya
Tentu ia kan tahu
mana sang juara sesungguhnya
Seandainya mentari
dan hujan mampu beriringan
Mungkinkah keelokan
pelangi kan jadi saksinya..
Senja jadi tak seindah dulu. Malam juga tak sebahagia
dulu. Detik waktu terasa hambar berlalu. Aku benci sementara. Karena yang
kuingin adalah selamanya.
Senja tak butuh
hujan
Namun inginkan
pelangi..
Senja tak ingin
kelabu
Namun butuh warna
yang baru..
Ditinggalkan tak lebih menyakitkan daripada dilupakan.
Karena perpisahan yang sesungguhnya adalah ketika saling melupakan, bukan
meninggalkan. Saat ditinggalkan, sejauh apapun jarak itu membentang, bila masih
saling mengingat dan percaya, maka hal itu bukanlah perpisahan. Hanya raga yang berjauhan namun hati tetap satu.
Ketimbang saling bertemu namun hati sudah tak saling memiliki. Bahkan tak ingin
mencintai. Mungkin inilah yang ia lakukan. Memberi jarak meski sebenarnya tak
ada jarak yang membentang. Sulit untukku ungkap perihnya. Tak terhitung
jumlahnya. Hingga makin terbiasa menghadapinya.
Tak ada air mata, bukan berarti tak tersayat dan tak tercabik. Sungguh
karena sakitnya makin tak tak terhingga. Sampai air mata pun tak ingin jatuh
karena percuma.
Air mata pun bosan
Bila jatuhnya
karena luka
Dan kecewa..
Jemari pun tak
sanggup lagi
Tuk usap air mata dipipi..
Tak kusangka, sedikit doaku terjawab sudah. Tuhan berikan
aku bahagia, hingga sanggup kuhadirkan senyuman dibibir ini. Setelah sekian
lama ku sanggup tertawa hanya tuk tenangkan jiwa. Namun yang sebenarnya, yang
terasa hanyalah hampa tak tersisa.
Sebentar kau kembali lagi. Sebentar kau pergi lagi. Aku
terima meski sakit kurasa. Entah apalah hadirku dimatamu. Tak mengubah sedikitpun
perasaan sayangku untukmu.
Hari ini, sedikit ku bisa sentuh bahagia lagi. Cahayaku kembali
menerangi hari-hariku yang gelap sebelumnya. Namun sudah ku mengerti, dan
selalu coba ku pahami. Terang cahaya itu tak lama pasti akan redup kembali.
Hanya syukur ku ucap kepada-Nya. Kala waktu kembalikan cahaya itu lagi. Dan
yang ku harap, ku butuh cahaya itu tuk selalu terangi gelap malamku juga
hangatkan siangku. Saat cahaya itu selalu ada terangiku. Seakan senjaku tak
butuh hujan lagi. Dan pelangi bahagia kan selalu mengiringi. Bila kau yang
selalu hadir disisi.
Cahayaku memang kembali bersinar..
Namun sinarnya masih belum sanggup menembus batas
ketidakmungkinan. Sungguh aku ingin jika sinar itu semakin terang dan semakin
terang tak akan redup lagi. Bersinar menyinari dan mewarnai hari-hariku.
Mungkin aku harus menimati proses. Entah untuk mencapai
yang aku perjuangkan ataukah menjadi orang paling kuat karena mampu mengerti
apa arti berjuang..
Hati ini bersungguh inginkan aku dan kamu berjuang bersama.
Kuatkan hati kita menjadi kuat seperti kokohnya menara ditengah keramaian kota.
Lalu kita berdiri seperti prajurit berani didepan musuh dan menghadapi
senjatanya. Bila kita terbunuh, kita akan mati sebagai martir, dan bila kita
menang, kita akan hidup seperti pahlawan. Kesulitan yang dihadapi dengan sekuat
hati sungguh lebih mulia dibandingkan dengan mundur dalam ketidakpastian.
Di hari spesialku, 20 Desember tahun ini memang banyak
hal yang aku harapkan namun aku tahu hal itu tak akan mungkin terjadi. Iya.
Sesuatu yang paling spesial darimu. Namun sekali lagi, siapa aku dan hanya apa
aku dimatamu. Jangankan sesuatu yang spesial khusus untukku. Ucapan selamat pun
tak aku dapatkan keluar dari bibirmu.
Tak pernah kah kau bayangkan dan rasakan, bila semua ini
berbalik kepadamu?
Sudahlah, aku tetap coba tuk lupakan kesedihan.
Setidaknya, aku masih memiliki teman-teman yang selalu membawa tawa dan
hadirkan canda. Meski tawaku hanya tuk tenangkan jiwa.
Kamu tak perlu tahu, cukup merasakannya bahwa bibir ini
tak henti-hentinya mendoakan kebahagiaanmu disana. Juga jiwa ini masih kan
berharap untuk kau bukakan pintu hati. Meski seringkali aku membisu dihadapmu,
aku selalu kehilangan kata-kataku kala ku tatap kedua matamu. Namun semoga kamu
tahu, rasa ini tulus dan sungguh untukmu..
Apalah dayaku bila kau ada untuk tiada dipeluk?. Bagaikan
gunung yang indah bila dipandang dari kejauhan, namun bila dekat hanyalah
sebuah bebatuan terjal semata. Pikiranku memanglah terbatas untuk mengetahui
yang sebenarnya. Rahasia illahi sungguh luar biasa. Tak terpikir olehku mengapa
perasaanku jatuh dalam jurang hatimu.
Mencintai dalam diam.
Dalam segala keheningan yang menjengkelkan. Tanpa kata,
tanpa tatap mata dan tanpa ada apa-apa diantara kita. Aku ikuti segala yang
mengalir. Berjalan apa adanya. Mengikuti kemana waktu kan membawaku. Mengalir
bagaikan deras air mengalir membawa perahu jiwa ini hingga berlabuh di
pelabuhan cinta yang tak salah.
Tidak ada cinta yang sempurna, namun mencintailah dengan
sempurna. Seperti kita kan hidup selamanya. Namun tetap dengan bernafaskan doa
yang selalu dipanjatkan kepada-Nya seakan kita hidup tak akan lama lagi.
Andai kamu tahu, aku tak seperti yang oranglain katakan
tentangku. Tema-temanmu, dan segala pandangan mereka tentangku. Andai kamu mau
mengenalku dengan caramu sendiri. Andai kamu mau mengikuti kata hatimu. Bukan
menampiknya seperti itu. Bukannya memulai sesuatu yang kita tahu akhirnya tak
akan bisa menyatu. Namun kita memulai untuk berjuang. Berjuang melawan segala
ketidakmungkinan yang ada. Hingga membuka segala pintu perbedaan.
Mungkin aku
hanyalah sandaranmu kala kau lelah dan terluka. Sampai pada luka itu
telah hilang, kembali kau beranjak dari diriku. Coba berlari jauh dari diriku.
Seolah aku tak berguna lagi. Terhapus semua yang pernah terjadi. Sungguh tak
mengapa. Bila masih kau izinkan aku tuk melihat senyuman itu.
Dan sampai hal ini terjadi lagi. Terdiam. Hanya diam. Ku
coba tuk cairkan suasana. Ku coba tuk ikuti apa yang kamu mau. “Seperti biasa,
jangan menjauh”. Namun seolah kau menjilat ludahmu sendiri. Kau yang menjadi
tak biasa dan bahkan menjauhiku. Apa salahku. Aku hanya ingin mengikuti segala
cara yang kau mau. Aku hanya bermain pada permainan yang kau ciptakan. Entah
mungkinkah aku yang terlalu bodoh untuk cinta seperti ini. Ataukah cinta yang
terlalu kejam untukku.
Benarkah jika “luka hati tak akan mati jika jiwa terus
menari dan bermimpi”.
Sungguh aku merindukan hangat tawa dan gelak canda
ceriamu. Segala yang mampu buatku terlupa pada segala masalah yang mendera.
Segala yang mampu buatku melepaskan segala rasa yang ada. Dan segalanya yang
ada pada dirimu. Buatku bahagia.
Sederhana. Satu kata yang menggambarkan segala tentangmu.
Mungkin tak cukup hanya satu kata. Namun ribuan bahkan jutaan kata telah terwakili oleh satu kalimat
sederhana. Cinta. Segala yang kau lakukan. Aku cinta. Segala yang kau katakan.
Aku percaya. Dan segala yang kau ciptakan. Aku tersenyum karenanya. Meski
terkadang mengalirkan sedikit luka. Aku tetap tersenyum karena luka itu. Karena
meski luka, kaulah yang menciptakannya. Aku terima.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa salahku hingga semua jadi berantakan seperti ini?
Kenapa kau seolah-olah menjauh dari ku? Ataukah hanya ketakutanku yang berlebihan
saja?
Aku..aku hanya takut kehilangan.
Begitu banyak pertanyaan mengganggu asa yang kutakutkan
kan berakhir percuma. Aku memang terlalu memikirkan. Tak banyak yang bisa
kuperbuat.
Setiap kali ku pejamkan mata. Saat itu juga pikiranku
terbayang selalu hal yang pernah kita lewati bersama. Meski hanya sekejap
kurasa. Namun berarti selamanya.
Bukankah hidup ada untuk diuji. Apapun hal nya
bagaimanapun bentuknya, apapun tujuannya bagaimanapun caranya pasti kan ada
ujian yang harus dilewati. Seperti cinta. Cinta ada untuk mengingat siapa
penciptanya. Ketika cinta untuk Pencipta selalu ada dan tertanam dalam setiap
diri manusia, itulah cinta yang sejati. Sampai pada saat cinta untuk seorang
pendamping hidup yang selalu dinanti
telah hadir dalam dada. Disanalah cinta dari Sang Pencipta Hidup berperan.
Cinta-Nya nyata dalam bentuk ujian. Menikmati
ujian bukan karena siapa sosok yang kita cintai. Namun jauh karena rasa
perjuangannya. Sepahit apapun, ketika cinta telah hadir, hanya manis yang
dirasa.
Cinta masih senantiasa tertanam di jiwa. Sekalipun mata
tak jarang melepaskan bulir bening yang mengalir karena sakitnya terasa menikam
hati. Cinta masih ada dan akan selalu hadir. Mata ini jauh memandang
disekeliling. Tak tampak sosok yang begitu eloknya menghias suasana. Jauh. Jauh
dirasa.
Apakah aku harus menyerah pada keadaan ? ataukah aku akan
kalah dalam memperjuangkan waktu?
Ternyata cinta ada tak selalu untuk mempersatukan dua
hati yang sebenarnya miliki rasa yang sama. Terkadang, bahkan malah memberi
jarak diantara keduanya. Entah karena alasan seperti apa yang dimiliki cinta.
Memang menyakitkan, ketika hati sedang diuji dengan cinta yang sangat luar
biasa namun tak bisa memilikinya. Untuk memandang sajapun butuh perjuangan
waktu yang tak sebentar. Banyak hal yang tak terduga dari cinta. Ketika tak ada
hadirnya tapi malah dapat bersatu. Sedangkan ketika hadirnya telah lama
tertanam, tapi malah tak dapat menjadikan satu dari dua hati yang rapuh.
Ribuan tetes airmata dan jutaan harap serta cemas selalu
menghias hari-hari. Akankah cinta juga yang akan merubah semuja keadaan ini.
Saat cinta tak ingin pergi dan akupun tak sanggup mengakhirinya.
Lantas, cinta seperti apa yang ia mau?
Cinta memang begitu menginspirasi. Meski sering juga
menyakiti. Aku memang tak mengerti cinta seperti apa yang ia inginkan. Atau aku
yang tak diiginkannya. Serunya dalam mencintai bukan terletak pada siapakah
orang yang sebenarnya kita cintai. Namun ternyata, lebih pada perjuangannya.
Bukan sekedar perjuangan untuk memiliki raganya. Tapi berjuang untuk bisa
selalu membahagiakannya. Untuk selalu membuatnya tersenyum. Untuk selalu memberinya
arti disetiap harinya. Bukan memberikan segala yang ia inginkan. Namun selalu
hadir dikala keadaan apapun.
Untuk itu, mungkin benar bila membahagiakan orang yang
dicintai tak harus memiliki. Ujian. Begitulah hati ini diuji. Diuji oleh
Penguasa Cinta.
Terkadang cerita cinta hampir sama seperti dalam kartun
ataupun dongeng lainnya. Hanya alurnya saja. Untuk ending?. Hampir jarang yang
berakhir dengan kalimat “pada akhirnya hidup bahagia selamanya”. Itulah
kenyataan. Sama halnya seperti yang kurasa kini. Terasa seperti Nobita.
Mencintai seseorang yang tak tahu hatinya untuk siapa. Merasa sangat bodoh pula
seperti Nobita. Ataukah memang apa yang dilakukan tak pernah ada benar
dimatanya.
Sampai kapan?
Pertanyaan yang entah kemana lagi aku harus mencari
jawabannya. Aku tak tahu. Namun aku sedang berjuang. Aku masih berjuang. Sedangkan
kau, hanya butuh kepercayaan untuk membunuh semua keraguan. Dan aku,
membutuhkan kesempatan untuk mengajakmu bahagia dihari selanjutnya.
Dalam percakapanku dengan Tuhan, dan juga beberapa orang
yang saya percaya, namamu selalu ada. Bahkan selalu aku sebut dalam setiap
nafas doaku. Entah bagaimana kau rasakannya. Entah bagaimana kau tak pernah
memahaminya. Adilkah bila hanya aku yang selalu
memperjuangkan segalanya?. Memang tak ada yang meminta. Tapi hati ini
tak bisa menolaknya.
Aku yakin kau pun tahu rasanya. Aku yakin kaupun mengerti
bagaimana perihnya merasakan hati yang tak kunjung berbalas. Dan menanti
sesuatu yang tak kunjung datang. Hari semakin berganti dan hatiku tak pernah
berubah arah. Selalu tertuju padamu. Hati yang ku punya tak pernah lelah
menunggu. Menunggu untuk dicintai oleh seorang kamu. Namun, kau hanya
menganggapku angin lalu. Bahkan sekedar anginpun yang tak pernah kau hiraukan.
Angin yangtak kasat mata.
Seolah kau menyuruhku untuk menyerah. Tanpa kusangka,
lisanmu memintaku untuk berhenti melakukan perbuatan sia-sia dan milai mencari
cinta yang baru. Namun bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya. Bila lelah
masih menuntunku untuk bertahan. Sekalipun bertahan dalam ketidakmungkinan.
Aku yang bodoh?
Atau kamu yang memang tak baik untukku?
Ya Tuhan, mengapa keadaan membawa aku dan dia menjadi
semakin terpisah saja? Tak akan ada lagikah kesempatan untuk bersanding
dengannya, menatap wajahnya, menikmati indah senyumnya, mengisi hari dengan
canda tawa yang dibuat olehnya. Dimana waktu?. Sepertinya aku hanya ingin
mengenal waktu yang dahulu bersahabat denganku. Membawa hari-hari selalu
bersamanya. Deringan ponsel yang penuh akan pemberitahuan pesan darinya.
Waktuku adalah dia. Dia yang selama ini kucinta dari rasa yang terpendam cukup
lama. Kusimpan rapi dan semakin tak kuasa ku menahannya. Aku sungguh
menginginkannya. Juga membutuhkannya. Rasaku untuknya. Masih selalu tertuju
padanya.
Katanya, waktu kan menjawab semua tanda tanya yang tumbuh
di otakku. Namun mengapa kini waktu seolah berjalan jauh meninggalkan aku.
Tanpa sebuah jawaban pun. Tanpa sebuah tanda-tanda pun. Waktu yang merubah
segalanya. Waktu yang mencipta segalanya. Sampai hari ini, kelabu. Hari-hariku
masih kelabu. Aku kehilangan senyuman itu. Aku kehilangan canda tawa itu.
Kemana dia yang dahulu membutuhkan aku. Aku benci begini. Membenci untuk
mencintainya. Aku tak berdaya.
Duniaku berubah. Semenjak hari itu. Jadi, hari itu aku
putuskan untuk membebaskan diri. Iya, awalnya aku anggap sebagai pembebasan
diri. Tapi ternyata semua berjalan diluar dugaanku. Kadang aku merasa, justru
malah mnakin terpenjara. Hingga kini ku temukan dunia yang lain. Entah ku
menyebutnya seperti apa. Nampaknya bebas dan lepas. Namun seringkali aku merasa
tersesat. Semuanya berjalan baik-baik saja, aku malah merasa tak baik, tak
begitu. Mungkin pula sebaliknya. Aku ingin kemana. Aku masih mencari.
Sebenarnya aku tak ingin terus saja seperti ini.
Apa mungkin sudah harus aku cukupkan dengan apa yang
pernah ada. Hanya “pernah ada” dan tak akan kembali lagi. “pernah” membuatku
semakin ingin berjuang untuk menjadikannya selamanya. “pernah” juga membuat aku
semakin ingin agar hal itu tak pergi lagi. Bukan seperti ini. Ini adalah
“pernah” yang membuatku semakin terluka. Segala yang “pernah” memang
menyakitkan. Sungguh sangat menyakitkan. “pernah” yang berlalu. Semakin
berlalu, hingga aku sanggup melaluinya dan semakin melupakannya.
Apa kabar dia?
Kisah ini belum selesai.