Sabtu, 27 Desember 2014

Endless Feeling



Aku tahu ini diluar kendaliku. Namun rasa yang ada tak akan mampu ku menolaknya. Kau beri ku rasa, hingga tercipta nyaman seisi jiwa. Salahkah jika memang hati ini mencintaimu. Meski banyak hal yang membuat aku dan kamu takkan mungkin bersatu.
Disini, untukmu, aku berusaha menjadi apa yang kamu butuhkan. Setelah kamu pernah tersakiti, aku ingin memberimu  bahagia tuk lupakan segala gundah dan amarah juga sedihmu. Mungkinkah dapat kamu mengerti apa yang telah tercipta dihati ini.

Andaikan waktu bisa ditarik mundur..
Ku mohon tuk dilahirkan kembali
Dengan raga yang lain pun tak mengapa
Namun jiwa kan tetap sama adanya
Hati yang mencintaimu,
Hingga bisa memilikimu..
Tersentak aku menyadari,
Bukan saat yang tepat tuk menyesali,
Meski satu tanda tanya,
Sulit kutemukan alasannya,
Mengapa kenyataan ini harus terjadi,
Ingin ku berlari sejauh mungkin,
Lepaskan rasa yang tercipta dan berakhir percuma...

Bagaimana bisa hal ini terjadi,
Lelaki manapun tak mampu aku percayai lagi..
Ku tutup rapat pintu hati ini
Aku terlalu takut untuk mencintai
Bila akhirnya kan tersakiti tuk kesekian kali...
Hingga akhirnya ku temukan sosok yang lain
Mengisi hari-hariku
Mengusir kesendirianku yang kelabu
Memberikan bahagia
Meski dengan hal yang paling sederhana
Namun sungguhlah bermakna...
Ku selipkan namanya dalam setiap doaku
Berharap waktu kan beri yang terbaik

Aku tahu ini takkan mungkin terjadi
Namun, kepingan hati ini berhasil kau curi
Nyaman kurasa
Hingga buatku bertanya
 Adakah makna dibalik ini semua...
 Berjuta kata “semoga”
Selalu hadir dalam doa
Hingga ku teteskan air mata
Debar jantung ini kian terasa
Kala terbayang segala ketidakmungkinan yang ada
Mengapa waktu biarkan kita bersama
Jika Tuhan tak izinkan kita tuk bersanding...

Tak hanya menuangkan. Sebenarnya aku ingin menumpahkan segala yang kurasa dan semua yang terjadi. Kehidupan memang tak pernah berjalan sempurna bagaikan cerita dalam dongeng. Cerita yang segala sesuatunya selalu diakhiri dengan “bahagia selamanya”. Begitu sialnya ketika hati ini jera sudah tuk mencari sebuah hati yang lain. Kegelisahan dan resah yang tak semestinya hadir. Namun ketika tak ada satupun yang ku percaya lagi, ketika sulit kurasa tuk membuka hati ini untuk yang lain. Seseorang hadir meruntuhkan segalanya. Meruntuhkan rasa takutku, robohkan gundahku, dan hapus rasa sakit ku. Buatku mampu mengukir senyuman dibibir dan merubah kesedihan menjadi canda tawa yang merasuk sempurna di jiwa.
Disisi lain aku tak mengerti, apa rasa yang hadir untuknya hanyalah sebuah asa yang tak akan pernah jadi nyata. Ataukah keajaiban layaknya fairy tale dapat aku rasakan. Kemungkinan yang ada, dibanding ketidakmungkinan yang nyata memang sungguh sangat berbanding signifikan. Ikuti kata hati. Atau menyerah pada keadaan. Entah setahun dua tahun nanti kan jadi apa. Waktu kan tetap jadi pemegang rahasia.
Kata mereka, perbedaan menjadi suatu keragaman dan kekayaan yang ada untuk saling menghargai, menghormati dan bertoleransi satu sama lain. Namun nyatanya, perbedaan jugalah yang menjadi jurang pemisah. Bahkan menjadi satu hal yang membuat dua hati tak dapat menyatu. Kecuali salah satu mampu mengalah untuk dapat menyatu dengan sempurna. Mengalah dan mengikuti prinsip itulah, hal yang begitu sulit untuk digenggam.

Kalau dipikir-pikir hidup ini aneh ya. Ketika kita mencintai seseorang, tapi seseorang itu nggak ada rasa sama kita. Saat kita dicintai oleh seseorang, eh kitanya nggak suka sama dia. Banyak banget misterinya.

Seorang berkata padaku, “semakin cinta berarti semakin siap buat sakit”. Satu kalimat sederhana namun tak mudah untuk dilupakan. Tak salah. Namun bagiku, setidaknya kita pernah berjuang, meski tak ada hasil yang sesuai dengan harapan. Karena yang terpenting adalah prosesnya. Dan tentu ada hikmah yang dapat diambil dari setiap kenyataan yang terjadi.
Begitu sulitnya menjelaskan segala rasa yang semakin dalam kurasa. Begitu sulitnya meyakinkan hatinya tuk dapat aku rengkuh. Memang banyak hal di dunia ini yang tak sejalan dengan harapan. Disamping banyak juga hal di dunia ini yang tidak mungkin sekalipun menjadi mungkin.
Apa benar rasa sakit itu ada untuk dirasakan?
Mungkinkah rasa sakit itu ada juga karena tersedia penawarnya.
Bagaimana dengan rasa cinta?
Cinta untuknya yang sedang kurasa, namun bukan aku yang ciptakannya. Semua diluar kendaliku. Pun aku tak mengerti, hingga detik ini rasa untuknya semakin dalam tak ingin aku mengusirnya.
Bahkan sampai hari ini aku masih terus berjuang untuk menahan semua perasaan dan keinginanku terhadapnya.
Aku tak mengerti, mengapa detik berlalu begitu cepat saat aku lalui semuanya denganmu, bersamamu, menatap indah senyummu, canda tawamu dan segala yang ada bersamamu..
Mengapa kini semua seolah sirna seiring berjalannya waktu.. perhatianmu, dan kasih yang pernah kau beri untukku. Entah, sekali lagi aku tak mengerti mengapa secepat itu kau berubah..
Ah.. semua laki-laki didunia ini sama saja. .
Dan waktu yang ku takutkan itu, mungkinkah ini saatnya?
Jangan.. aku mohon jangan.. aku ingin selalu bisa menikmati canda tawanya..
Meski tak mungkin untukku memilikimu, segala rasa yang pasti tak mungkin. Namun kumohon, Tuhan. Aku ingin selalu dekat dengannya. Seperti kemarin hingga detik sebelum semuanya sirna dan berubah seketika.
“aku dan kamu” begitulah isi doaku..
“aku dan kamu” itulah mimpi terbesar dalam jiwaku..
Seperti dalam bayangan, hadirmu selalu hadir dalam pikiran. Entah kapan kan jadi kenyataan, namun sungguh indah walau hanya kan selalu terbayang. Tak akan pernah terlupa, tak akan pernah terhapus. Masa-masa itu, masa yang begitu indah namun secepat kilat semua itu telah usai. Belum sempat aku rasakan sepenuhnya. Kesekian kalinya terjadi lagi. Aku kehilangan, hal yang belum sempat termiliki. Dan mungkin tak akan pernah termiliki. Kamu...
Apakah happy ending itu hanya milik dongeng dan film cinta sebagaimana adanya?
Salahkah jika seorang wanita ingin mewujudkan cerita cintanya seperti dalam dongeng?
Jika wanita dilahirkan dan ditakdirkan menjadi seorang pemimpi. Lalu pria sebagai sosok yang realistis. Bukankah seharusnya sang pria mampu merealisasikan mimpi dari seorang wanita yang sangat mencintainya dengan ikhlas dan tanpa mengharapkan balasan kecuali dengan cinta itu sendiri?
Aku tahu, hidup tak selamanya indah. Juga, tak ada kesempurnaan dalam hidup. Kecuali kita yang mampu ciptakan bahagia itu hingga terasa begitu sempurna. Saat berada didekat orang-orang yang kita sayang dan menyayangi kita. Saat berada ditengah orang-orang yang membutuhkan dan kita butuhkan.
Apalagi saat bisa bersama dengan sesosok Prince Charming yang selama ini diidamkan. Serasa tak butuh siapa-siapa lagi didunia ini. Aku percaya segala sesuatunya kan terasa menyenangkan.
It’s always been you...
Begitu beratnya rasa, kuingin memelukmu. Hilang yang kini kurasa. .
Bukankah jika memang benar sama-sama saling mencintai dan menyayangi, berarti juga bersedia untuk berjuang untuk hal apapun yang akan dihadapi kedepannya? Tapi mengapa kenyataannya menjadi seperti ini. Menghilang satu sama lain. Terdiam untuk waktu yang tak bisa ditentukan.
Menyebalkan.
Keheningan ini sungguh membosankan..
Aku merindukan gelak tawamu, sentuhan jemarimu dan genggaman tanganmu.
Ataukah kau telah miliki yang lain?
Hingga kau lupakan aku begitu saja..
Berulang kali rasakan sakit yang sama, dengan orang yang berbeda pun, semuanya terasa sama. Tersadar, aku mengerti bila hasil tak selalu sama dengan ingin. Aku tak percaya semua kan jadi begini, setelah kau hadir menjadi malaikat dihati ini. Cukup sudah sakit yang kurasa kini. Semua yang telah kulalui berakhir percuma begitu saja.
Cobalah berhenti sejenak lalu lihatlah aku.. masih adakah ruang dihatimu untukku.. cinta ini tak akan aku sesali, meski rasa sakitnya selalu menghantui. Karena hidup untuk cinta, yang tercipta dari dirimu dan kesetiaan yang terucap dari bibirku.
Ingin sekali aku katakan, betapa berarti tingkahnya untukku.. ingin sekali aku tunjukkan pada dunia bahwa dia mampu buatku terkesan..
Tak mampu aku bohongi rasa dihati, bila “hati dan raga ini terlalu mengharapkanmu hingga kagum menjadi duri”.
Namun aku akan mencoba untuk merelakanmu, akan ku berusaha untuk mengerti kepergianmu dengan semua yang akan terjadi, sekuat hati akan kupahami cinta dengan segala misteri yang tersimpan. Semua yang telah terjadi, begitu sempurna untukku meski kini telah disebut sebagai kenangan.
Aku tak menyangka, kau palingkan arah, disaat ku percaya..
Kita sering banget seperti ini. Tanpa kata, tanpa kabar dan tanpa tatap muka satu sama lain. Bagiku ini sungguh sangat menyebalkan. Entah baginya.
Hidup ini lucu, kadang warna warni, kadang pula cuma ada hitam putih bahkan kelabu. Saat lagi mengharap seseorang untuk bersama kita, malah yang lagi enggak kita harapkan itu justru ada bersama kita. Sering banget realita nggak sejalan dengan harap dan rencana.
Menatap setiap langkahmu adalah keindahan hal yang selalu aku simpan. Berharap detik ini hingga esok kan datang aku belum kehilangan semua itu. Hangat peluk janjimu selalu aku ingat tak akan pernah sekalipun terhapus dari pikiranku.
Sungguh keheningan diantara kita begitu sangat menyakitkan. Terlebih aku tak mengerti apa maumu dan apa maksudmu melakukan semua ini padaku. Aku ingin kita seperti biasa. Seperti saat kita lewati hari bersama. Bukan terdiam seperti ini.  Tanpa kata, tanpa isyarat. Terdiam aku meragu. Namun tak  dapat aku lari dari perasaanku untukmu.
Terinspirasi dari lagu Sheila On 7 yang berjudul Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki.  Terdiam aku merenung dan hayati setiap bait dari lagu itu. Mengesankan. Tergambar jelas bayangmu saat ku nikmati lagu itu. Teringat kala waktu itu milik kita. Tak kusangka kini telah berlalu. “belai lembut jarimu, sejuk tatap wajahmu, hangat peluk janjimu, anugerah terindah yang pernah kumiliki”. Sungguh membuat ingatanku melayang jauh kala hal itu terjadi. Seakan waktu membeku  saat itu. Serasa aku tak butuh siapapun juga. Seolah dunia menjadi warna-warni saat kulalui hari itu denganmu. Mungkin benar , kala Tuhan hanya sekedar mempertemukan namun tidak untuk menyatukan. Namun bukankah takdir dapat berubah dengan usaha dan doa?. Aku tak ingin, jika namamu yang telah terukir dalam jiwaku berubah menjadi kenangan.
Ku berfikir dan merenungkan. Bahwa cinta tak hanya untuk cinta dan ingin. Aku butuh. Kurasakan desiran rasa yang butuh akan hadirmu disisiku. Meredamkan amarahku, tunjukkan jalan keluar kala ku tersesat dalam suatu persoalan. Membawa ku pada kesederhanaan dan ajariku untuk selalu apa adanya. Tak butuh alasan apapun bila berkali kau hujamku dengan pertanyaan bodoh. Karena cinta tak butuh alasan.
Aku tak ingin kau berlalu seperti yang sudah-sudah. Aku tak ingin nama indahmu berubah menjadi satu kata sederhana yaitu “kenangan”. Entahlah kini kau dimana. Hilang. Tak ada kata diantara kita. Ataukah kau sengaja lari. Menjauh dan bersembunyi entah dimana aku tak tahu. Aku tak mengerti akan keadaan ini. Kesekian kalinya kurasa luka yang sama. Air mata yang sama. Namun dengan sosok yang berbeda. Kemana aku harus pulang?
Ternyata senyumku hanya sesaat. Bahagiaku telah sirna. Cahayaku mulai meredup. Harapanku entah kemana. Seiring kau tiada lagi di hari-hariku. Menyebalkan. Namun kamu masih ada dalam hatiku. Mataku terpejam oleh lelah yang tak seharusnya. Resah mengganggu setiap detik waktu berlalu. Sesekali kuingin kan engkau tuk rebah didadaku. Rasakan setiap detak jantungku. Sebanyak itulah kesabaranku untuk mencintaimu. Menunggu.

Seperti langit yang merindu akan hangatnya sang mentari.
Bersembunyi dibalik mega kelabu
Menunggu sang hujan hentikan rintikannya
Hingga sang pelangi pun hadirkan raganya
Membawa berjuta warna hiasi cakrawala

Seandainya mata sang pangeran ada pada hatinya
Tentu ia kan tahu mana sang juara sesungguhnya
Seandainya mentari dan hujan mampu beriringan
Mungkinkah keelokan pelangi kan jadi saksinya..

Senja jadi tak seindah dulu. Malam juga tak sebahagia dulu. Detik waktu terasa hambar berlalu. Aku benci sementara. Karena yang kuingin adalah selamanya.

Senja tak butuh hujan
Namun inginkan pelangi..
Senja tak ingin kelabu
Namun butuh warna yang baru..

Ditinggalkan tak lebih menyakitkan daripada dilupakan. Karena perpisahan yang sesungguhnya adalah ketika saling melupakan, bukan meninggalkan. Saat ditinggalkan, sejauh apapun jarak itu membentang, bila masih saling mengingat dan percaya, maka hal itu bukanlah perpisahan. Hanya raga  yang berjauhan namun hati tetap satu. Ketimbang saling bertemu namun hati sudah tak saling memiliki. Bahkan tak ingin mencintai. Mungkin inilah yang ia lakukan. Memberi jarak meski sebenarnya tak ada jarak yang membentang. Sulit untukku ungkap perihnya. Tak terhitung jumlahnya. Hingga makin terbiasa menghadapinya.  Tak ada air mata, bukan berarti tak tersayat dan tak tercabik. Sungguh karena sakitnya makin tak tak terhingga. Sampai air mata pun tak ingin jatuh karena percuma.

Air mata pun bosan
Bila jatuhnya karena luka
Dan kecewa..
Jemari pun tak sanggup lagi
Tuk usap air mata dipipi..

Tak kusangka, sedikit doaku terjawab sudah. Tuhan berikan aku bahagia, hingga sanggup kuhadirkan senyuman dibibir ini. Setelah sekian lama ku sanggup tertawa hanya tuk tenangkan jiwa. Namun yang sebenarnya, yang terasa hanyalah hampa tak tersisa.
Sebentar kau kembali lagi. Sebentar kau pergi lagi. Aku terima meski sakit kurasa. Entah apalah hadirku dimatamu. Tak mengubah sedikitpun perasaan sayangku untukmu.
Hari ini, sedikit ku bisa sentuh bahagia lagi. Cahayaku kembali menerangi hari-hariku yang gelap sebelumnya. Namun sudah ku mengerti, dan selalu coba ku pahami. Terang cahaya itu tak lama pasti akan redup kembali. Hanya syukur ku ucap kepada-Nya. Kala waktu kembalikan cahaya itu lagi. Dan yang ku harap, ku butuh cahaya itu tuk selalu terangi gelap malamku juga hangatkan siangku. Saat cahaya itu selalu ada terangiku. Seakan senjaku tak butuh hujan lagi. Dan pelangi bahagia kan selalu mengiringi. Bila kau yang selalu hadir disisi.

Cahayaku memang kembali bersinar..
Namun sinarnya masih belum sanggup menembus batas ketidakmungkinan. Sungguh aku ingin jika sinar itu semakin terang dan semakin terang tak akan redup lagi. Bersinar menyinari dan mewarnai hari-hariku.

Mungkin aku harus menimati proses. Entah untuk mencapai yang aku perjuangkan ataukah menjadi orang paling kuat karena mampu mengerti apa arti berjuang..

Hati ini bersungguh inginkan aku dan kamu berjuang bersama. Kuatkan hati kita menjadi kuat seperti kokohnya menara ditengah keramaian kota. Lalu kita berdiri seperti prajurit berani didepan musuh dan menghadapi senjatanya. Bila kita terbunuh, kita akan mati sebagai martir, dan bila kita menang, kita akan hidup seperti pahlawan. Kesulitan yang dihadapi dengan sekuat hati sungguh lebih mulia dibandingkan dengan mundur dalam ketidakpastian.
Di hari spesialku, 20 Desember tahun ini memang banyak hal yang aku harapkan namun aku tahu hal itu tak akan mungkin terjadi. Iya. Sesuatu yang paling spesial darimu. Namun sekali lagi, siapa aku dan hanya apa aku dimatamu. Jangankan sesuatu yang spesial khusus untukku. Ucapan selamat pun tak aku dapatkan keluar dari bibirmu.
Tak pernah kah kau bayangkan dan rasakan, bila semua ini berbalik kepadamu?

Sudahlah, aku tetap coba tuk lupakan kesedihan. Setidaknya, aku masih memiliki teman-teman yang selalu membawa tawa dan hadirkan canda. Meski tawaku hanya tuk tenangkan jiwa.

Kamu tak perlu tahu, cukup merasakannya bahwa bibir ini tak henti-hentinya mendoakan kebahagiaanmu disana. Juga jiwa ini masih kan berharap untuk kau bukakan pintu hati. Meski seringkali aku membisu dihadapmu, aku selalu kehilangan kata-kataku kala ku tatap kedua matamu. Namun semoga kamu tahu, rasa ini tulus dan sungguh untukmu..

Apalah dayaku bila kau ada untuk tiada dipeluk?. Bagaikan gunung yang indah bila dipandang dari kejauhan, namun bila dekat hanyalah sebuah bebatuan terjal semata. Pikiranku memanglah terbatas untuk mengetahui yang sebenarnya. Rahasia illahi sungguh luar biasa. Tak terpikir olehku mengapa perasaanku jatuh dalam jurang hatimu.
Mencintai dalam diam.
Dalam segala keheningan yang menjengkelkan. Tanpa kata, tanpa tatap mata dan tanpa ada apa-apa diantara kita. Aku ikuti segala yang mengalir. Berjalan apa adanya. Mengikuti kemana waktu kan membawaku. Mengalir bagaikan deras air mengalir membawa perahu jiwa ini hingga berlabuh di pelabuhan cinta yang tak salah.

Tidak ada cinta yang sempurna, namun mencintailah dengan sempurna. Seperti kita kan hidup selamanya. Namun tetap dengan bernafaskan doa yang selalu dipanjatkan kepada-Nya seakan kita hidup tak akan lama lagi.

Andai kamu tahu, aku tak seperti yang oranglain katakan tentangku. Tema-temanmu, dan segala pandangan mereka tentangku. Andai kamu mau mengenalku dengan caramu sendiri. Andai kamu mau mengikuti kata hatimu. Bukan menampiknya seperti itu. Bukannya memulai sesuatu yang kita tahu akhirnya tak akan bisa menyatu. Namun kita memulai untuk berjuang. Berjuang melawan segala ketidakmungkinan yang ada. Hingga membuka segala pintu perbedaan.

Mungkin aku  hanyalah sandaranmu kala kau lelah dan terluka. Sampai pada luka itu telah hilang, kembali kau beranjak dari diriku. Coba berlari jauh dari diriku. Seolah aku tak berguna lagi. Terhapus semua yang pernah terjadi. Sungguh tak mengapa. Bila masih kau izinkan aku tuk melihat senyuman itu.

Dan sampai hal ini terjadi lagi. Terdiam. Hanya diam. Ku coba tuk cairkan suasana. Ku coba tuk ikuti apa yang kamu mau. “Seperti biasa, jangan menjauh”. Namun seolah kau menjilat ludahmu sendiri. Kau yang menjadi tak biasa dan bahkan menjauhiku. Apa salahku. Aku hanya ingin mengikuti segala cara yang kau mau. Aku hanya bermain pada permainan yang kau ciptakan. Entah mungkinkah aku yang terlalu bodoh untuk cinta seperti ini. Ataukah cinta yang terlalu kejam untukku.

Benarkah jika “luka hati tak akan mati jika jiwa terus menari dan bermimpi”.

Sungguh aku merindukan hangat tawa dan gelak canda ceriamu. Segala yang mampu buatku terlupa pada segala masalah yang mendera. Segala yang mampu buatku melepaskan segala rasa yang ada. Dan segalanya yang ada pada dirimu. Buatku bahagia.

Sederhana. Satu kata yang menggambarkan segala tentangmu. Mungkin tak cukup hanya satu kata. Namun ribuan bahkan jutaan  kata telah terwakili oleh satu kalimat sederhana. Cinta. Segala yang kau lakukan. Aku cinta. Segala yang kau katakan. Aku percaya. Dan segala yang kau ciptakan. Aku tersenyum karenanya. Meski terkadang mengalirkan sedikit luka. Aku tetap tersenyum karena luka itu. Karena meski luka, kaulah yang menciptakannya. Aku terima.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa salahku hingga semua jadi berantakan seperti ini?
Kenapa kau seolah-olah menjauh dari ku?  Ataukah hanya ketakutanku yang berlebihan saja?
Aku..aku hanya takut kehilangan.
Begitu banyak pertanyaan mengganggu asa yang kutakutkan kan berakhir percuma. Aku memang terlalu memikirkan. Tak banyak yang bisa kuperbuat.

Setiap kali ku pejamkan mata. Saat itu juga pikiranku terbayang selalu hal yang pernah kita lewati bersama. Meski hanya sekejap kurasa. Namun berarti selamanya.

Bukankah hidup ada untuk diuji. Apapun hal nya bagaimanapun bentuknya, apapun tujuannya bagaimanapun caranya pasti kan ada ujian yang harus dilewati. Seperti cinta. Cinta ada untuk mengingat siapa penciptanya. Ketika cinta untuk Pencipta selalu ada dan tertanam dalam setiap diri manusia, itulah cinta yang sejati. Sampai pada saat cinta untuk seorang pendamping hidup  yang selalu dinanti telah hadir dalam dada. Disanalah cinta dari Sang Pencipta Hidup berperan. Cinta-Nya nyata dalam bentuk ujian. Menikmati  ujian bukan karena siapa sosok yang kita cintai. Namun jauh karena rasa perjuangannya. Sepahit apapun, ketika cinta telah hadir, hanya manis yang dirasa.

Cinta masih senantiasa tertanam di jiwa. Sekalipun mata tak jarang melepaskan bulir bening yang mengalir karena sakitnya terasa menikam hati. Cinta masih ada dan akan selalu hadir. Mata ini jauh memandang disekeliling. Tak tampak sosok yang begitu eloknya menghias suasana. Jauh. Jauh dirasa.

Apakah aku harus menyerah pada keadaan ? ataukah aku akan kalah dalam memperjuangkan waktu?

Ternyata cinta ada tak selalu untuk mempersatukan dua hati yang sebenarnya miliki rasa yang sama. Terkadang, bahkan malah memberi jarak diantara keduanya. Entah karena alasan seperti apa yang dimiliki cinta. Memang menyakitkan, ketika hati sedang diuji dengan cinta yang sangat luar biasa namun tak bisa memilikinya. Untuk memandang sajapun butuh perjuangan waktu yang tak sebentar. Banyak hal yang tak terduga dari cinta. Ketika tak ada hadirnya tapi malah dapat bersatu. Sedangkan ketika hadirnya telah lama tertanam, tapi malah tak dapat menjadikan satu dari dua hati yang rapuh.

Ribuan tetes airmata dan jutaan harap serta cemas selalu menghias hari-hari. Akankah cinta juga yang akan merubah semuja keadaan ini. Saat cinta tak ingin pergi dan akupun tak sanggup mengakhirinya.

Lantas, cinta seperti apa yang ia mau?

Cinta memang begitu menginspirasi. Meski sering juga menyakiti. Aku memang tak mengerti cinta seperti apa yang ia inginkan. Atau aku yang tak diiginkannya. Serunya dalam mencintai bukan terletak pada siapakah orang yang sebenarnya kita cintai. Namun ternyata, lebih pada perjuangannya. Bukan sekedar perjuangan untuk memiliki raganya. Tapi berjuang untuk bisa selalu membahagiakannya. Untuk selalu membuatnya tersenyum. Untuk selalu memberinya arti disetiap harinya. Bukan memberikan segala yang ia inginkan. Namun selalu hadir dikala keadaan apapun.

Untuk itu, mungkin benar bila membahagiakan orang yang dicintai tak harus memiliki. Ujian. Begitulah hati ini diuji. Diuji oleh Penguasa Cinta.

Terkadang cerita cinta hampir sama seperti dalam kartun ataupun dongeng lainnya. Hanya alurnya saja. Untuk ending?. Hampir jarang yang berakhir dengan kalimat “pada akhirnya hidup bahagia selamanya”. Itulah kenyataan. Sama halnya seperti yang kurasa kini. Terasa seperti Nobita. Mencintai seseorang yang tak tahu hatinya untuk siapa. Merasa sangat bodoh pula seperti Nobita. Ataukah memang apa yang dilakukan tak pernah ada benar dimatanya.

Sampai kapan?

Pertanyaan yang entah kemana lagi aku harus mencari jawabannya. Aku tak tahu. Namun aku sedang berjuang. Aku masih berjuang. Sedangkan kau, hanya butuh kepercayaan untuk membunuh semua keraguan. Dan aku, membutuhkan kesempatan untuk mengajakmu bahagia dihari selanjutnya.
Dalam percakapanku dengan Tuhan, dan juga beberapa orang yang saya percaya, namamu selalu ada. Bahkan selalu aku sebut dalam setiap nafas doaku. Entah bagaimana kau rasakannya. Entah bagaimana kau tak pernah memahaminya. Adilkah bila hanya aku yang selalu  memperjuangkan segalanya?. Memang tak ada yang meminta. Tapi hati ini tak bisa menolaknya.

Aku yakin kau pun tahu rasanya. Aku yakin kaupun mengerti bagaimana perihnya merasakan hati yang tak kunjung berbalas. Dan menanti sesuatu yang tak kunjung datang. Hari semakin berganti dan hatiku tak pernah berubah arah. Selalu tertuju padamu. Hati yang ku punya tak pernah lelah menunggu. Menunggu untuk dicintai oleh seorang kamu. Namun, kau hanya menganggapku angin lalu. Bahkan sekedar anginpun yang tak pernah kau hiraukan. Angin yangtak kasat mata.

Seolah kau menyuruhku untuk menyerah. Tanpa kusangka, lisanmu memintaku untuk berhenti melakukan perbuatan sia-sia dan milai mencari cinta yang baru. Namun bagaimana mungkin aku sanggup melakukannya. Bila lelah masih menuntunku untuk bertahan. Sekalipun bertahan dalam ketidakmungkinan.

Aku yang bodoh?
Atau kamu yang memang tak baik untukku?

Ya Tuhan, mengapa keadaan membawa aku dan dia menjadi semakin terpisah saja? Tak akan ada lagikah kesempatan untuk bersanding dengannya, menatap wajahnya, menikmati indah senyumnya, mengisi hari dengan canda tawa yang dibuat olehnya. Dimana waktu?. Sepertinya aku hanya ingin mengenal waktu yang dahulu bersahabat denganku. Membawa hari-hari selalu bersamanya. Deringan ponsel yang penuh akan pemberitahuan pesan darinya. Waktuku adalah dia. Dia yang selama ini kucinta dari rasa yang terpendam cukup lama. Kusimpan rapi dan semakin tak kuasa ku menahannya. Aku sungguh menginginkannya. Juga membutuhkannya. Rasaku untuknya. Masih selalu tertuju padanya.

Katanya, waktu kan menjawab semua tanda tanya yang tumbuh di otakku. Namun mengapa kini waktu seolah berjalan jauh meninggalkan aku. Tanpa sebuah jawaban pun. Tanpa sebuah tanda-tanda pun. Waktu yang merubah segalanya. Waktu yang mencipta segalanya. Sampai hari ini, kelabu. Hari-hariku masih kelabu. Aku kehilangan senyuman itu. Aku kehilangan canda tawa itu. Kemana dia yang dahulu membutuhkan aku. Aku benci begini. Membenci untuk mencintainya. Aku tak berdaya.

Duniaku berubah. Semenjak hari itu. Jadi, hari itu aku putuskan untuk membebaskan diri. Iya, awalnya aku anggap sebagai pembebasan diri. Tapi ternyata semua berjalan diluar dugaanku. Kadang aku merasa, justru malah mnakin terpenjara. Hingga kini ku temukan dunia yang lain. Entah ku menyebutnya seperti apa. Nampaknya bebas dan lepas. Namun seringkali aku merasa tersesat. Semuanya berjalan baik-baik saja, aku malah merasa tak baik, tak begitu. Mungkin pula sebaliknya. Aku ingin kemana. Aku masih mencari. Sebenarnya aku tak ingin terus saja seperti ini.

Apa mungkin sudah harus aku cukupkan dengan apa yang pernah ada. Hanya “pernah ada” dan tak akan kembali lagi. “pernah” membuatku semakin ingin berjuang untuk menjadikannya selamanya. “pernah” juga membuat aku semakin ingin agar hal itu tak pergi lagi. Bukan seperti ini. Ini adalah “pernah” yang membuatku semakin terluka. Segala yang “pernah” memang menyakitkan. Sungguh sangat menyakitkan. “pernah” yang berlalu. Semakin berlalu, hingga aku sanggup melaluinya dan semakin melupakannya.

Apa kabar dia?
Kisah ini belum selesai.