Menurutnya, penyair adalah burung yang membawa keajaiban.
Dia lari dari kerajaan surga lalu tiba di dunia ini untuk berkicau
semerdu-merdunya dengan suara bergetar. Bila kita tidak memahaminya dengan
cinta dihati, dia akan kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang kembali ke
negeri asalnya. –kahlil gibran-
Akupun ingin menjadi satu dari sekian banyak burung-burung
ajaib itu. Aku juga ingin sekali menjadi raja, raja yang tak bertahta seperti
Kahlil Gibran. Meski begitu, keindahan setiap goresan hatinya mampu selalu kita
rasakan, cerna dan bahkan turut hanyut dalam alur setiap bait-bait syair.
Namun mengapa mereka belum bisa percaya?
Atau mungkin takkan pernah bisa percaya? Tentang kekuatan
syair. Padahal di dalamnya terdapat keindahan kata-kata yang amat mendalam
untuk dirasa. Makna syair memang tak pernah bisa diwujudkan, namun dengan
membaca dan menyimpannya dalam kalbu.. makna itu sungguh nyata, namun tak
tampak. Tak dapat disentuh, cukup dirasa. Ribuan katapun tak mampu tuk
menjelaskan. Karena syair memang tyak butuh penjelasan.
Ini bukan persoalan materi. Saya tahu, masa depan harus
dipersiapkan dengan matang. Bila menjadi dokter, guru, insinyur atau bahkan
pengacara kondang sekalipun bila tak dilakoni dengan sepenuh hati dan perasaan
bukankah hanya berbuah percuma. Malah mungkin hasilnyapun tidak akan maksimal.
Mulia memang pekerjaan sebagai penjual jasa, yang selalu
mampu diwujudkan pada setiap orang. Namun bagaimana bila hati tak memilih?
Haruskah dipaksakan karena uang? Mungkinkah bisa menikmati hari-hari yang
bermula dari keterpaksaan?
Mereka menentang mimpiku, mereka bahkan tak percaya. Tak
akan pernah percaya. Disini, dalam hati ini, selalu terbangkit gairah tuk
buktikan suatu saat nanti. Mereka yang tak bisa percaya, akan kupastikan kelak
kan tersenyum bangga karena ku mampu mewujudkan hal yang mereka ragukan...
28 Januari 2013