Senin, 28 Januari 2013

aku ingin menjadi...


Menurutnya, penyair adalah burung yang membawa keajaiban. Dia lari dari kerajaan surga lalu tiba di dunia ini untuk berkicau semerdu-merdunya dengan suara bergetar. Bila kita tidak memahaminya dengan cinta dihati, dia akan kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang kembali ke negeri asalnya. –kahlil gibran-
Akupun ingin menjadi satu dari sekian banyak burung-burung ajaib itu. Aku juga ingin sekali menjadi raja, raja yang tak bertahta seperti Kahlil Gibran. Meski begitu, keindahan setiap goresan hatinya mampu selalu kita rasakan, cerna dan bahkan turut hanyut dalam alur setiap bait-bait syair.
Namun mengapa mereka belum bisa percaya?
Atau mungkin takkan pernah bisa percaya? Tentang kekuatan syair. Padahal di dalamnya terdapat keindahan kata-kata yang amat mendalam untuk dirasa. Makna syair memang tak pernah bisa diwujudkan, namun dengan membaca dan menyimpannya dalam kalbu.. makna itu sungguh nyata, namun tak tampak. Tak dapat disentuh, cukup dirasa. Ribuan katapun tak mampu tuk menjelaskan. Karena syair memang tyak butuh penjelasan.
Ini bukan persoalan materi. Saya tahu, masa depan harus dipersiapkan dengan matang. Bila menjadi dokter, guru, insinyur atau bahkan pengacara kondang sekalipun bila tak dilakoni dengan sepenuh hati dan perasaan bukankah hanya berbuah percuma. Malah mungkin hasilnyapun tidak akan maksimal.
Mulia memang pekerjaan sebagai penjual jasa, yang selalu mampu diwujudkan pada setiap orang. Namun bagaimana bila hati tak memilih? Haruskah dipaksakan karena uang? Mungkinkah bisa menikmati hari-hari yang bermula dari keterpaksaan?
Mereka menentang mimpiku, mereka bahkan tak percaya. Tak akan pernah percaya. Disini, dalam hati ini, selalu terbangkit gairah tuk buktikan suatu saat nanti. Mereka yang tak bisa percaya, akan kupastikan kelak kan tersenyum bangga karena ku mampu mewujudkan hal yang mereka ragukan...

28 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar