Sekuat hati ku sembunyikan bulir bening ini dibalik
kegelapan. Aku menangis dalam diam, dalam dinginnya malam dan dibawah sinar
rembulan. Seakan mulut ini tak mampu lagi tuk ucapkan sepatah katapun. Hanya
airmata yang mampu mewakili segalanya.
Lalu, kau sadarinya. Kau berlutut dihadapku. Menggenggam
tanganku dan memohon maaf dariku. Aku tak kuasa. Aku mendongakkan leher ini
pada pekatnya langit, berharap bintang-bintang menyanyikan lagu kegembiraan
padaku. Namun, kau memaksaku untuk menatap wajahmu. Sekali lagi, aku tak kuasa.
Aku rapuh detik itu. Aku menyerah dalam keadaan membeku.
Memang akupun tak luput dari kesalahan, yang membuat kau
berubah dan menjadi dingin. Sedingin ribuan tetesan embun malam itu. Aku pun
turut menyesal telah membuatmu membenci.
Ribuan detik terasa sungguh menyesakkan dada. Kerinduan akan
senyumanmu, riang canda mu dan tawa lepasmu terus memenuhi ruang di kalbu.
Maafkan aku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar