Selasa, 26 Februari 2013

menangis dalam diam


Sekuat hati ku sembunyikan bulir bening ini dibalik kegelapan. Aku menangis dalam diam, dalam dinginnya malam dan dibawah sinar rembulan. Seakan mulut ini tak mampu lagi tuk ucapkan sepatah katapun. Hanya airmata yang mampu mewakili segalanya.
Lalu, kau sadarinya. Kau berlutut dihadapku. Menggenggam tanganku dan memohon maaf dariku. Aku tak kuasa. Aku mendongakkan leher ini pada pekatnya langit, berharap bintang-bintang menyanyikan lagu kegembiraan padaku. Namun, kau memaksaku untuk menatap wajahmu. Sekali lagi, aku tak kuasa. Aku rapuh detik itu. Aku menyerah dalam keadaan membeku.
Memang akupun tak luput dari kesalahan, yang membuat kau berubah dan menjadi dingin. Sedingin ribuan tetesan embun malam itu. Aku pun turut menyesal telah membuatmu membenci.
Ribuan detik terasa sungguh menyesakkan dada. Kerinduan akan senyumanmu, riang canda mu dan tawa lepasmu terus memenuhi ruang di kalbu. Maafkan aku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar