Dan, akhirnya terjadi
juga. Mungkin harus ada saatnya , dimana kita tak saling bertemu, berjarak dan
berjauh dalam ruang dan waktu untuk sementara. Namun tak dapat kupungkiri hal
ini berat untukku. Hal ini kusebut long distance relationship. Memang suatu hal
yang sulit untuk dibayangkan, dan kenyataannya harus kulalui bersamamu. Engkau
tak mungkin selalu tinggal disini, di kota ini, Jogjakarta. Ribuan waktu aku
lalui penuh warna. Saat ini, harus aku tahan untuk sementara waktu. Untuk itu,
aku dan kamu bertanggungjawab menjaga hati masing-masing. Putih cinta kita kan
buktikan segalanya. Aku dan kamu kan kembali bersatu seperti sedia kala. Setiap
waktu berlalu selalu ada aku dan kamu. Berwarna, penuh keceriaan, itulah
kebahagiaanku denganmu.
Bersama denganmu, tak terkira indahnya hari telah terlewati,
jutaan menit berlalu tanpa terasa. Hadirmu menjadi pelengkapku di jagat raya.
Namun kini, jarak kita terbentang antara Anyer dan Parangtritis. Bagaimanapun
aku harus tetap tersenyum, meski dalam batinku selalu terhujam rindu yang tak
henti-hentinya membawa bayanganmu hadir disisi. Aku pasti bisa, melewati banyak
hari tanpa hadirmu, tanpa sentuhanmu, dan tanpa keceriaanmu. Meski sepi selalu
temani dan memenjarakanku kini. Namun aku tahu ini semua kan cepat berakhir.
Aku ingin melihatmu, pastikan bahwa kau baik-baik saja
tanpaku. Aku ingin menjamahmu, tuk tenangkan hatiku yang selalu gundah gulana
bila tanpamu disini. Aku ingin kau datang menemuiku, dan akan ku peluk erat kau
tak kulepaskan. Bertetes airmata dan bermandikan kerinduan, perasaanku yang
dalam kepadamu. Aku tak mengerti mengapa kusampai begini. Aku terlalu takut
jauh darimu. Aku haus akan dirimu. Dekap aku dalam mimpimu, dan dalam anganmu.
Entah apa yang akan dikatakan hujan ketika aku termenung
dan membisu dibawah rintikannya? Entah apa yang akan dikatakan sang mentari,
saat disela teriknya aku berlari mengejar dirimu? Aku berkemas, membawa semua
hatiku pulang. Tanpa pernah ada satupun asa terwujudkan. Hanya saja aku
merindukanmu. Itu saja, namun sulit untuk kau mengerti.
Perlahan aku mulai memahami, kepergianmu hanyalah
sementara. Tak mungkin kau selalu ada disini, di kota ini bersamaku. Perlahan
kau pun juga mulai mengerti, rinduku padamu adalah kepingan sayangku yang
terbungkus dalam suatu rasa yang selalu kusebut itu cinta.
Aku sempat bertemu denganmu, namun hanya dalam mimpiku. Aku
melihat senyum wajahmu yang buatku terkesima dan berbahagia. Kau peluk erat
tubuhku dan berkata bahwa kau tak akan pernah meninggalkanku meski kau jauh
dariku. Namun ketika ku membuka mataku dan merasakan yang tersisa hanyalah
airmata yang membasahi pipi. Dimana keindahan mimpiku? Bagaimana ia hadir dan
menghilang?
Kau tahu, aku mencintaimu seperti seorang ibu yang
menyayangi anak semata wayangnya. Hal itu berarti aku sangat takut untuk
kehilanganmu. Dan cinta yang mengajariku untuk melindungi
dirimu,hatimu,perasaaanmu, bahkan dari diriku sendiri.
Kuatkan hati kita menjadi kuat seperti kokohnya menara
ditengah keramaian kota. Lalu kita berdiri seperti prajurit berani didepan
musuh dan menghadapi senjatanya. Bila kita terbunuh, kita akan mati sebagai
martir, dan bila kita menang, kita akan hidup seperti pahlawan. Kesulitan yang
dihadapi dengan sekuat hati sungguh lebih mulia dibandingkan dengan mundur
dalam ketidakpastian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar