Selasa, 13 Agustus 2013

Long Distance Relationship


Dan, akhirnya terjadi juga. Mungkin harus ada saatnya , dimana kita tak saling bertemu, berjarak dan berjauh dalam ruang dan waktu untuk sementara. Namun tak dapat kupungkiri hal ini berat untukku. Hal ini kusebut long distance relationship. Memang suatu hal yang sulit untuk dibayangkan, dan kenyataannya harus kulalui bersamamu. Engkau tak mungkin selalu tinggal disini, di kota ini, Jogjakarta. Ribuan waktu aku lalui penuh warna. Saat ini, harus aku tahan untuk sementara waktu. Untuk itu, aku dan kamu bertanggungjawab menjaga hati masing-masing. Putih cinta kita kan buktikan segalanya. Aku dan kamu kan kembali bersatu seperti sedia kala. Setiap waktu berlalu selalu ada aku dan kamu. Berwarna, penuh keceriaan, itulah kebahagiaanku denganmu.
Bersama denganmu, tak terkira indahnya hari telah terlewati, jutaan menit berlalu tanpa terasa. Hadirmu menjadi pelengkapku di jagat raya. Namun kini, jarak kita terbentang antara Anyer dan Parangtritis. Bagaimanapun aku harus tetap tersenyum, meski dalam batinku selalu terhujam rindu yang tak henti-hentinya membawa bayanganmu hadir disisi. Aku pasti bisa, melewati banyak hari tanpa hadirmu, tanpa sentuhanmu, dan tanpa keceriaanmu. Meski sepi selalu temani dan memenjarakanku kini. Namun aku tahu ini semua kan cepat berakhir.
Aku ingin melihatmu, pastikan bahwa kau baik-baik saja tanpaku. Aku ingin menjamahmu, tuk tenangkan hatiku yang selalu gundah gulana bila tanpamu disini. Aku ingin kau datang menemuiku, dan akan ku peluk erat kau tak kulepaskan. Bertetes airmata dan bermandikan kerinduan, perasaanku yang dalam kepadamu. Aku tak mengerti mengapa kusampai begini. Aku terlalu takut jauh darimu. Aku haus akan dirimu. Dekap aku dalam mimpimu, dan dalam anganmu.
Entah apa yang akan dikatakan hujan ketika aku termenung dan membisu dibawah rintikannya? Entah apa yang akan dikatakan sang mentari, saat disela teriknya aku berlari mengejar dirimu? Aku berkemas, membawa semua hatiku pulang. Tanpa pernah ada satupun asa terwujudkan. Hanya saja aku merindukanmu. Itu saja, namun sulit untuk kau mengerti.

Perlahan aku mulai memahami, kepergianmu hanyalah sementara. Tak mungkin kau selalu ada disini, di kota ini bersamaku. Perlahan kau pun juga mulai mengerti, rinduku padamu adalah kepingan sayangku yang terbungkus dalam suatu rasa yang selalu kusebut itu cinta.

Aku sempat bertemu denganmu, namun hanya dalam mimpiku. Aku melihat senyum wajahmu yang buatku terkesima dan berbahagia. Kau peluk erat tubuhku dan berkata bahwa kau tak akan pernah meninggalkanku meski kau jauh dariku. Namun ketika ku membuka mataku dan merasakan yang tersisa hanyalah airmata yang membasahi pipi. Dimana keindahan mimpiku? Bagaimana ia hadir dan menghilang?
Kau tahu, aku mencintaimu seperti seorang ibu yang menyayangi anak semata wayangnya. Hal itu berarti aku sangat takut untuk kehilanganmu. Dan cinta yang mengajariku untuk melindungi dirimu,hatimu,perasaaanmu, bahkan dari diriku sendiri.
Kuatkan hati kita menjadi kuat seperti kokohnya menara ditengah keramaian kota. Lalu kita berdiri seperti prajurit berani didepan musuh dan menghadapi senjatanya. Bila kita terbunuh, kita akan mati sebagai martir, dan bila kita menang, kita akan hidup seperti pahlawan. Kesulitan yang dihadapi dengan sekuat hati sungguh lebih mulia dibandingkan dengan mundur dalam ketidakpastian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar