Sabtu, 22 Desember 2012

satu


Aku gemar bergelut dengan sajak sajak
Menulis tentangmu di hidupku
Merangkai kata tuk jadikan kalimat terindah
Ribuan sajak tercipta ,
Tentang kau dan aku..
Tentang cinta kita..
Kau dan hatimu, milikku
Kau dan aku, satu...

sweet seventeenth


17 tahun yang lalu, tepat di tanggal 20 Desember 1995 aku dilahirkan. Dibawah pekatnya malam, bertemankan sepi dan berselimutkan dingin yang begitu menusuk kulit, pukul 01.00 dini hari yang ketika itu diwarnai dengan isak tangis bayi. Aku diberi kesempatan oleh Sang Maha Pencipta untuk menghirup udara kebebasan. Menikmati indahnya dunia dan melihat berbagai ciptaaNya.
Terimakasih Tuhan yang telah meniupkan roh pada ragaku. Mempercayakan pula pada diri ini untuk sanggup jalani apa yang Kau perintahkan dan Kau larangkan.
Terimakasih Ibu, yang telah sabar merawat dan menyayangiku bahkan sebelum wujudku terlihat olehmu.
Terimakasih pula Bapak, yang telah mengobarkan jiwa raga hingga peluh menetes tak kau pedulikan hanya untuk membuat ku bahagia.
Terimakasih sahabat-sahabat. Tanpa kalian, aku terlahir hanya seorang diri tanpa banyak tahu pelajaran-pelajaran kehidupan dari berbagai sisi.
Semuanya, hari ini 20.12.2012 manisnya 17 tahun, berbagai permohonan pada Tuhan agar langkah kaki ku untuk meraih masa depan kian mantap ku tapaki. Hadapi tantangan karena kini aku bukan anak kecil lagi. Sigap dan bijaksana dalam mengambil keputusan dan berpegang teguh pada pendirian.
17 tahun, awal dari segalanya akan memulai. . aku akan wujudkan dengan keringat dan doaku, bahwa aku kan membuat semua orang yang menyayangiku kan tersenyum. Memelukku dalam kebanggaan. Dan mencium keningku dalam haru karena cita-cita di usia 17 tahun ini kan menjadi nyata di masa yang akan datang..
Masa depan ada di tanganku. Akan aku genggam dan akan aku perjuangkan. . .

Yogyakarta, 20.12.2012

Selasa, 18 Desember 2012

Hujan dengan Sejuta Romansa


Aku tak dapat melihat sinar bagaskara yang seharusnya terpancar dengan eloknya. Sinarnya telah tergantikan mega yang pastinya akan menurunkan hujan. Saat hujan pun akhirnya mengguyur, pikiranku melayang pada sosokmu. Mengingatkan ku pada setiap detik kita bersama dalam deru derasnya hujan. Dinginnya saat itu. Basah.
Dalam terik ataupun hujan, kita bersama. Berirama dalam cinta. Hujan sering menahan kita untuk pulang. Hujan membuat kita bersama lebih lama.
Kini, dalam sendiri aku menikmati setiap rintiknya hujan. Bau tanah yang biasanya berganti dengan harumnya suasana saat kita berdua kini terasa semakin kuat. Aku tak mengerti mengapa kita sampai dihadapkan pada situasi begini. Pada satu titik dimana kita saling mengedepankan ego masing-masing.
Harus bagaimana aku meleburnya agar segalanya kembali seperti sedia kala. Entah aku harus berbuat apa. Entah kemana ku akan melangkah. Mungkin belum sampai ku temui lelah. Mungkin dan masih mungkin aku akan bertahan demi segala yang telah kita bina bersama.
Hujan tak juga reda, setiap rintiknya membawa keresahan dalam jiwa. Setiap iramanya bersenandungkan kerinduan akan hadirmu.  Dan akan terus bergema menyesak di kalbu.
Aku terdiam dalam hujan. Deras dan membasahi seluruh tubuhku, dinginnya pun mencengkeram. Mendukung suasana hatiku yang kini sedang rumit. Aku menangis dalam kebimbangan dibawah hujan. Aku lebih memilih menangis dalam pelukan hujan karena tak seorangpun mampu menyadarinya. Tak juga kau..

Minggu, 16 Desember 2012

bersamamu, walau hanya sekerdipan mata


Aku tahu, ini memang bukan saat yang tepat. Andai saja takdir bisa ditarik mundur, aku pasti melakukan apapun untuk menjadikanmu milikku selamanya.
Bagaimana harus ku mengulang segalanya. Tak dapat aku menghindar. Aku tak mampu menghalangi perasaanku yang masih linglung pada realita dan fiksi yang aku pikirkan. Tentangmu, tentang dia, tentang perasaanku, hatiku, dan semuanya.
Kamu, telah menarik perhatianku sejak pertemuan pertama kita. Dan , sampai hari ini aku masih terus berjuang menahan semua keinginan dan perasaanklu terhadapmu.. hingga harapanku untukmu dihari kemarin kini telah tinggal kenangan.. meski belum sirna..

“airmata tak selamanya perlambang kelemahan,
Tapi pada saat tertentu,
Menjadi aliran yang akan menghanyutkan kesedihan kita
Sampai ke muara hingga rasa perih itu perlahan
Akan terlepas”
-yang kedua-

Namun rasa ini tak mampu hanyut begitu saja, meski kau telah menjauh dan mungkin menghilang dari kehidupanku. Airmata pun seolah membeku dan sulit untuk terlepaskan. Aku memang telah kehilanganmu, ketika aku belum sempat memilikimu. Rasa ini membuncah, hilang, datang, berantakan dan tak karuan.
Adakah terukir namaku di hatimu? Walau hanya satu guratan tipis yang samar-samar... meski telah ku coba mengobati luka ini dengan bersama orang yang mencintaiku, namun ada yang tertinggal. Kemarin, dan kenangan itu. Bersamamu, walau hanya sekerdipan mata. Aku sempat bahagia melihat senyumanmu dan berada dalam pandanganku.

Memang sulit untukku mengelaknya, bahwa keindahanmu terlihat tapi sangat sulit ku jangkau oleh sentuhan. Kau bahkan bagaikan malaikat tersembunyi yang tak butuh sayap untuk membuatku bisa tersenyum. Meski tersenyum dalam dekap harapan. Harapan yang tak mungkin aku dapatkan kenyataannya.

Dalam Diam


Entahlah magnet seperti apa yang ada dibalik sosokmu. Sehingga banyak hati yang menginginkanmu untuk melengkapinya. Termasuk aku yang sudah tak mungkin lagi berharap padamu.
Namun, aku masih menginginkan ada hari untuk kita. Hari ketika kita kembali bertemu. Tak peduli seperti apa pun situasinya saat itu.
Detik ini, hatiku senandungkan rindu kala bayanganmu datang. Tersisa keraguan ketika tiba-tiba menghilang. Hilang dalam kenangan yang telah lama terpendam. Berpisah dalam keadaan. Namun tak akan terpisah dari ingatanku. 
Dirimu, bayangmu, hadirmu, segala tentangmu masih menjadikan inspirasiku. Entah bagaimana kau merasakannya. Entah ada tidaknya aku dalam pikiranmu, juga dalam perjalanan hidupmu.. Namun aku selalu menanti keajaiban itu.
Engkau tak akan pernah tau betapa sulitnya jadi aku. Mencintaimu dalam diam. Mencintaimu dalam bayang-bayang orang lain. Dan merindukanmu dalam malam yang kelam.

3 menit


3 menit yang terindah
Terasa berlalu begitu cepat
Namun cukup menyesakkan dada
Tediam. Bersembunyi dalam senyuman
3 menit yang membuat hati ini meledak
Bak bunyi peluru sersan yang melesat dari pistolnya
Tanpa dia sadari, tanpa dia mengerti..
Sekali lagi,
3 menit yang berarti segalanya...