Aku tahu, ini memang
bukan saat yang tepat. Andai saja takdir bisa ditarik mundur, aku pasti
melakukan apapun untuk menjadikanmu milikku selamanya.
Bagaimana harus ku
mengulang segalanya. Tak dapat aku menghindar. Aku tak mampu menghalangi
perasaanku yang masih linglung pada realita dan fiksi yang aku pikirkan.
Tentangmu, tentang dia, tentang perasaanku, hatiku, dan semuanya.
Kamu, telah menarik
perhatianku sejak pertemuan pertama kita. Dan , sampai hari ini aku masih terus
berjuang menahan semua keinginan dan perasaanklu terhadapmu.. hingga harapanku
untukmu dihari kemarin kini telah tinggal kenangan.. meski belum sirna..
“airmata tak
selamanya perlambang kelemahan,
Tapi pada saat
tertentu,
Menjadi aliran
yang akan menghanyutkan kesedihan kita
Sampai ke muara
hingga rasa perih itu perlahan
Akan terlepas”
-yang kedua-
Namun rasa ini tak
mampu hanyut begitu saja, meski kau telah menjauh dan mungkin menghilang dari
kehidupanku. Airmata pun seolah membeku dan sulit untuk terlepaskan. Aku memang
telah kehilanganmu, ketika aku belum sempat memilikimu. Rasa ini membuncah,
hilang, datang, berantakan dan tak karuan.
Adakah terukir namaku
di hatimu? Walau hanya satu guratan tipis yang samar-samar... meski telah ku
coba mengobati luka ini dengan bersama orang yang mencintaiku, namun ada yang
tertinggal. Kemarin, dan kenangan itu. Bersamamu, walau hanya sekerdipan mata.
Aku sempat bahagia melihat senyumanmu dan berada dalam pandanganku.
Memang sulit untukku
mengelaknya, bahwa keindahanmu terlihat tapi sangat sulit ku jangkau oleh
sentuhan. Kau bahkan bagaikan malaikat tersembunyi yang tak butuh sayap untuk
membuatku bisa tersenyum. Meski tersenyum dalam dekap harapan. Harapan yang tak
mungkin aku dapatkan kenyataannya.