Aku tak dapat melihat sinar bagaskara yang seharusnya
terpancar dengan eloknya. Sinarnya telah tergantikan mega yang pastinya akan
menurunkan hujan. Saat hujan pun akhirnya mengguyur, pikiranku melayang pada
sosokmu. Mengingatkan ku pada setiap detik kita bersama dalam deru derasnya
hujan. Dinginnya saat itu. Basah.
Dalam terik ataupun hujan, kita bersama. Berirama dalam
cinta. Hujan sering menahan kita untuk pulang. Hujan membuat kita bersama lebih
lama.
Kini, dalam sendiri aku menikmati setiap rintiknya hujan.
Bau tanah yang biasanya berganti dengan harumnya suasana saat kita berdua kini
terasa semakin kuat. Aku tak mengerti mengapa kita sampai dihadapkan pada
situasi begini. Pada satu titik dimana kita saling mengedepankan ego
masing-masing.
Harus bagaimana aku meleburnya agar segalanya kembali
seperti sedia kala. Entah aku harus berbuat apa. Entah kemana ku akan
melangkah. Mungkin belum sampai ku temui lelah. Mungkin dan masih mungkin aku
akan bertahan demi segala yang telah kita bina bersama.
Hujan tak juga reda, setiap rintiknya membawa keresahan
dalam jiwa. Setiap iramanya bersenandungkan kerinduan akan hadirmu. Dan akan terus bergema menyesak di kalbu.
Aku terdiam dalam hujan. Deras dan membasahi seluruh
tubuhku, dinginnya pun mencengkeram. Mendukung suasana hatiku yang kini sedang
rumit. Aku menangis dalam kebimbangan dibawah hujan. Aku lebih memilih menangis
dalam pelukan hujan karena tak seorangpun mampu menyadarinya. Tak juga kau..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar